Jumat, 24 Mei 2019

Buku - buku yang terasingkan

Sumber : Rahman Wahid

Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya" -Ali bin Abi Thalib.

Sebagaimana kalimat diatas, buku memegang peranan penting dalam kehidupan, tidak berlebihan juga jika kita melabeli buku sebagai sumber kehidupan. Bagaimana tidak, dengan buku kita mampu melihat berbagai macam sendi kehidupan, tentu saja bukan sekedar dilihat, namun ilmu dalam buku itu juga memberi pedoman bagi kita untuk menjalani hidup.

Bayangkan bagaimana jika sejak dulu para penemu terkemuka dunia tidak membukukan temuannya itu? Bagaimana jika misalnya Ibnu Sina tidak menuliskan segudang ilmu di bidang kedokterannya? Mungkin hari ini kita takkan bisa mendapatkan manfaat yang teramat besar dari temuannya itu.

Ya, buku sejatinya adalah sumber kehidupan sekaligus pewaris peradaban. Namun ironis, saat ini buku menjadi barang yang seolah asing bagi masyarakat. Jangankan dibaca, untuk sekedar menyentuhnya pun kerap kali kita merasa ogah-ogahan. Buku menjadi terasing dengan debu tebal yang menutupinya, ia menjadi tertutup bagi siapa saja, ia seolah dilupakan.

Tidak heran buku menjadi barang yang langka dibeli oleh masyarakat. Buku menjadi suatu komoditas ekonomi tersier. Ya, tepat sekali jika dikatakan bahwa buku tak lagi menarik di mata masyarakat. Sungguh pemandangan yang cukup memilukan. Buku sebagai sumber kehidupan tak mampu lagi menarik minat masyarakat luas.

Buku seolah menjadi barang mewah yang hanya pantas dibeli oleh orang-orang dengan intelektual tinggi semacam mahasiswa dan pejabat. Tentu ini merupakan pandangan yang keliru dan mesti dikonstruksi ulang. Keterasingan buku di masyarakat seperti ini jelas harus segera diakhiri. Sudah saatnya buku kembali hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Buku tidak boleh terlihat asing, ia harus diusahakan agar dapat menjadi realitas hidup masyarakat. Khususnya di Indonesia, jika kita melihat hasil ranking PISA 2015 yang menunjukan posisi Indonesia yang amat menghawatirkan dalam kegemaran membaca yang bercokol di urutan ke-65 dari 72 negara anggota.

Jelas ini bukan hal yang membanggakan. Ranking itu pula seolah melegitimasi realitas masyarakat yang asing dengan buku. Kita tidak boleh membiarkan hal ini terus semakin memburuk. Pengoptimalan peran pemerintah dalam menaikan taraf literasi masyarakat perlu terus digenjot.

Belakangan mulai muncul itikad baik dari pemerintah dengan meluncurkan program-program yang memberikan ruang bagi buku agar bisa eksis di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari program perpus keliling, buku di angkot, di stasiun, bandara dan lainnya. Tentu program ini harus terus dipertahankan oleh pemerintah seraya memperbanyak topik buku yang sekiranya bermanfaat dan digemari oleh masyarakat.

Dalam upaya mempopulerkan buku di masyarakat, perlu juga dukungan dari berbagai pihak agar kondisi carut marut seperti sekarang segera teratasi. Kita perlu juga mengapresiasi kehadiran para pejuang literasi dalam bentuk perpus jalanan, taman baca, sanggar baca yang dikelola independen. Karena berkatnya peran pemerintah dapat juga terbantu.

Masyarakat perlu kita sadarkan bahwa buku harus menjadi konsumsi mereka sehari-hari. Kita juga harus berusaha keras agar masyarakat juga dapat mendaptkan akses yang mudah dalam memperolah buku. Kita tentu menginginkan tatanan sosial masyarakat bisa lepas dari zona kekurangan "gizi" menjadi kaya nutrisi dan sehat secara akali, dan di situlah peran buku. Ya, sudah cukup sampai disini masyarakat terasing dari buku.



Sambut Lebaran, Pendakian Gunung Sumbing via Garung Ditutup Seminggu More

Buku - buku yang terasingkan

Jumat, 24 Mei 2019

Buku - buku yang terasingkan More

Memperingati Hari Laut Sedunia

Sabtu, 08 Juni 2019

Memperingati Hari Laut Sedunia More

Sempat Dihapus, Huawei Mate 20 Pro Kembali Masuk Daftar Penerima Android Q More



© 2018 STMIK BANDUNG . All rights reserved.